Fotografi itu apa?? Basiknya seperti apa?? dan Bagaiana Membuat Foto yang baik seperti apa??
yuk kita simak satu persatu.
Fotografi adalah seni menggambar objek dengan menggunakan cahaya
- Photos = cahaya
- Graphien = menggambar
Langkah-langkah Belajar Fotografi
- Kita memerlukan kamera. Berdasarkan ukuran sensor, kamera terbagi dua, kamera saku dan kamera DSLR.
- Kita perlu belajar tentang eksposur cahaya. Inti dari fotografi adalah eksposur, atau total cahaya yang masuk ke dalam sensor peka cahaya. Peran kita sebagai fotografer adalah mengandalikan jumlah cahaya yang masuk dengan mengubah besarnya bukaan lensa, kecepatan rana, dan ISO. Tiga elemen ini disebut dengan segitiga emas fotografi.
- Kita tentu harus mempelajari kamera kita, terutama mode-modenya, pengukuran cahaya dan autofocus.
- Kita perlu tahu apa itu kedalaman fokus (deep of field) dan apa faktor-faktornya.
- Kita harus tahu bagaimana mengambil gambar yang tajam dan tidak kabur.
- Kita harus mempelajari komposisi foto yang baik dan menarik.
- Kita harus mempelajari karakter cahaya terutama arah dan intensitas cahaya.
- Kita harus belajar antisipasi dan mengambil foto pada waktu yang cepat/momen.
- Kita harus belajar bercerita lewat foto, entah dengan satu foto atau satu seri foto.
- Kita harus belajar mengolah foto dan efek digital.
Prinsip Kerja Kamera
- Cahaya masuk ke dalam kamera melalui lensa.
- Objek yang akan diambil gambarnya dapat dilihat di viewfinder.
- Pada kamera analog cahaya tersebut digunakan untuk membakar film.
- Pada kamera digital cahaya diterima oleh sensor yang kemudian diubah ke data digital. Data tersebut kemudian disimpan pada media penyimpanan seperti SD Card, CF, MMC dll.
Macam-macam Kamera
- Kamera Pocket
– Kamera point and shoot.
– Dimensi kecil dan praktis.
– Fasilitas: zoom, LCD putar, video dst. - Kamera SLR
– Single Lens Reflex: mencegah efek parallax.
– Parameter setting:
* Shutter speed – kecepatan rana.
* Aperture – bukaan diafragma.
* Focus
– Memiliki banyak fasilitas pendukung: berbagai jenis lensa, filter dll. - Range Finder
– Kamera point and shoot lensa tetap.
– Setting shutter speed, aperture, dan focus.
– Dapat menggunakan filter. - Medium Format
– Mirip SLR namun film lebih lebar (120 mm).
– Biasa digunakan untuk pemotretan still life (benda tidak bergerak), untuk keperluan bisnis iklan dan majalah membutuhkan gambar yang besar. - Kamera Large Format
– Disebut view camera. Film 45 inchi atau 8 x 10 inchi.
– Digunakan untuk media cetak dengan ukuran sangat besar dan kualitas sangat bagus.
– Umumnya digunakan untuk keperluan khusus, seperti foto udara, foto arsitektur dengan jarak dekat tanpa menimbulkan distorsi. - Kamera Instan
– Unggul dalam kecepatan menghasilkan gambar.
– Tidak perlu proses cuci cetak film.
– Tidak memiliki klise sehingga bisa dicetak ulang.
1. Memahami fotografi seni tingkat terendah adalah memahami teknik. Yang tertinggi adalah memahami isi. Bila kita akan memotret foto seni maka kita harus dapat memahami dasar- dasar fotografi seni. bisa juga sebagai pemula dapat memahami fungsi dari sebuah kamera tersebut dan tahu cara penggunaannya. Lalu seandainya kita sudah bisa memahami kamera tersebut atau fungsi- fungsi dari kamera tersebut kita bisa memotret foto seni tetapi hanya di tingkat terendah saja. Apabila kita ingin mendapatkan hasil di tingkat tertinggi maka kita harus dapat memahami isi cerita dalam foto tersebut. Maksud cerita isi foto tersebut adalah foto dapat berbicara atau dapat bercerita dengan sendirinya, meskipin foto tersebut tidak berbicara secara langsung dengan sendirinya, tetapi kita dapat merasakan isi cerita dalam foto tersebut.
2. Memahami Fotografi seni tingkat sedang adalah memahami soal komposisi angel pemotretan dan moment. Jadi di fotografi seni tingkat sedang ini kita harus memahami soal komposisi angel pemotretan dan moment. Pemahaman tersebut di bagi menjadi 3 yaiti pertama soal komposisi: sebelum memotret kita harus mengatur obyek komposisi yang ingin di potret dengan sedemikian rupa atau sesuai selera yang ada dalam jiwa seni anda. Seharusnya komposisi tersebut tidak boleh bocor dari pemotretan tersebut ( terdapat celah yang kosong dalam foto tersebut ). Yang kedua adalah angel pemotretan : pemotretan tidak harus dari depan obyek namun dapat dilakukan dari berbagai sisi. Maksutnya adalah, apabila kita memotret dari depan obyek namun hasilnya tidak maksimal, kita dapat melakukan pemotretan dari berbagai sisi sampai kita dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Yang ke tiga adalah moment : untuk mendapatkan hasil pemotretan yang bagus adalah kita harus dapat menentukan moment yang sesuai sebagai obyek dalam sebuah pemotretan.
3. Memahami soal teknik dalam fotografi seni bisa penting bisa tidak. Dengan mode otomatis , soal teknik sebenarnya bisa diabaikan. Maksut dari kalimat tersebut adalah sebenarnya teknik fotografi seni dapat di pahami dengan singkat, jika orang tersebut mempunyai jiwa seni yang tinggi, tergantung dengan individu indivdu masing- masing . dengan mode otomatis soal teknik sebenarnya bisa diabaikan apabila individu tersebut tidak terlalu paham dengan teknik fotografi. Tetapi terdapat kekurangan didalam individu tersebut, karena seolah – olah individu tersebut yang dimainkan kamera, bukan kamera ysng kita mainkan. Jika individu tersebut mau memahami kamera tersebut lebih dalam, kita juga dapat ilmu dari kamera tersebut dan dapat memainkan kamera tersebut dengan baik dan benar.
4. Memahami soal teknis jadi penting manakala sering memotret dalam kondisi sulit seperti memadukan dua macam pencahayaan. Pemotratan dalam kondisi sulit dapat terlihat budah apabila kita memahami soal teknis seperti memadukan dua macam pencahayaan. Karena memotret dalam kondisi sulit tersebut harus memahami teknik tingkat tinggi. jika teknik tersebut tidak dikuasai, maka hasil foto tidak maksimal bisa jadi tidak berbentuk foto tetapi gambar tersebut tidak jelas atau buram. Dan jika menggunakan teknik memadukan dua pencahayaan kita harus membutuhkan alat tambahan seperti softblock atau flash tambahan yang mempunyai trigger masing – masing. Karena foto seni tersebut jika ingin menjadi foto seni yang terbaik harus menggunakan alt tambahan tersebut.
5. Memahami isi foto adalah memahami makna – makna yang bisa tersirat. Apabila kita ingin mendapatkan hasil di tingkat tertinggi maka kita harus dapat memahami isi cerita dalam foto tersebut. Maksud cerita isi foto tersebut adalah foto dapat berbicara atau dapat bercerita dengan sendirinya, meskipin foto tersebut tidak berbicara secara langsung dengan sendirinya, tetapi kita dapat merasakan isi cerita dalam foto tersebut. Selain foto dapat berbicara untuk mengungkapkan isi didalam foto tersebut, kondisi atau suasana yang terdapat dalam obyek foto juga dapat menggambarkan isi foto tersebut. Selain obyek foto, suasana , dan background tersebut yang dapat berbicara, namun di sekitar obyek juga dapat menggambarkan isi foto tersebut.
6. Dalam foto seni, pemahaman akan isi adalah bagian terpenting. Sebuah foto seni bukan paparan visual. Apabila kita ingin mendapatkan hasil di tingkat tertinggi maka kita harus dapat memahami isi cerita dalam foto tersebut. Maksud cerita isi foto tersebut adalah foto dapat berbicara atau dapat bercerita dengan sendirinya, meskipin foto tersebut tidak berbicara secara langsung dengan sendirinya, tetapi kita dapat merasakan isi cerita dalam foto tersebut. Maksud foto seni bukan paparan visual adalah foto tersebut tidak hanya bisa di lihat saja namun juga dapat di rasakan dengan perasaan atau hati. Karena bisa saja foto tersebut menggambarkan sebuah perasaan seseorang dan biasanya perasaan tersebut adalah perasaan orang yang menghasilkan foto itu.
7. Memahami komposisi ibarat memahami pengaturan kursi dan lemari dalam kamar. Bisa nyaman, bisa tidak. Bagaimana cara kita mengkomposisikan ruangan tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jadi apanila seumpama kita menginginkan kamar tersebut terlihat nyaman, maka kita harus mengatur komposisi kamar tersebut, seperti lemari, kursi , meja, fas bunga dll. Dan sebaliknya jika kita menginginkan kamar tersebut tidak nyaman komposisi dalam kamar tersebut tidak perlu dikondisikan yang baik atau nyaman. Kesimpulanya adalah komposisi dalam penempatan suatu property sangat mempengaruhi suatu hasil yang di inginkan.
8. komposisi foto baik bukanlah harga mati, baik si A mungkin buruk bagi si B. tapi bagaimana pun ada komposisi yang baik secara umum. Pandangan setiap orang berbeda – beda. Ada yang menilai baik namun bagi orang lain tidak baik. Misalnya sebuah foto dalam pameran, foto yang rapi bisa kalah harga dengan foto yang tidak rapi, hal tersebut terjadi karena mata seseorang berbeda apabila sudah menilai suatu karya seni. Biasanya, dalam karya seni bukan komposisi rapi yang di nilai, namun bagaimana karakter foto tersebut dilihat oleh mata seorang seniman. Dengan secara umum, sebuah komposisi yang baik dapat di lihat dengan duaa arah yaitu dengan mata seorang seniman dan foto yang d lihat dari sisi kerapian.
9. Angel atau sudut pemotretan ibarat cara melihat kita. Melihat balapn motor tentu tidak nyaman kalau d lihat dari sudut rendah. Angel pemotretan tidak harus dari depan obyek namun dapat dilakukan dari berbagai sisi. Maksutnya adalah, apabila kita memotret dari depan obyek namun hasilnya tidak maksimal, kita dapat melakukan pemotretan dari berbagai sisi sampai kita dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Seperti orang lain melihat kita juga dari berbagai sudut, bisa dari sisi depan yaitu dari postur tubuh, dari belakang yaitu bisa dari sifat – sifat kita. Dari beberapa cara itu lah kita dapat mengerti karakter seseorang, seperti memehami karakter sebuah foto yang di potret. Bisa juga kamera tersebut menjadi mata yang saat itu kita liahat iyach saat itu kita poteret. Bagaiman caranaya kita bisa melihat dengan baik dan mendapatkan komposisi yang bagus.
10. Komposisi yang baik ibarat pengaturan yang baik. Nyamankah anda diruangan itu? Nyamankah anda memandang fotonya? Bagaimana cara kita mengkomposisikan ruangan tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan. Antara nyaman dan tidak itu bisa tergantung dengan individu masing-masing. Karena bisa juga kompisisi itu menandakan karakter kita.jika anda tidak nyama dengan komposisi tersebut aturlah lagi sesuai dengan selera apa yang anda inginkan. Dan setelah mengambil atau memotret objek tersebut kita lihat lagi bagaimana foto terlihat baik atau malah sebaliknya tidak nyaman di pandang. Maka dari itu aturlah sedemikian rupa dengan selera anda.
11. Tingkatan pemahaman pada sebuah foto dari tingkat terendah adalah teknis, angel, komposisi, moment, dan konten. Hal tersebut adalah sebuh pemahaman yang harus dilakukan sebelum melakukan pemotretajn yang sempurna. Yaitu memahami teknik memotret yagn bagus dan menarik sebagian sudah saya jelaskan di nomer sebelumnya, lalu memahami engel yaitu mencari titik yang terbagusnya objek tersebut di ambil itu termasuk cara dalam memotret, selanjutnya komposisi juga harus diperhatikan untuk halnya memotret agar foto yang dihasilkan tidak terdapat kebocoran dalam foto atau ruang kosong dalam foto, mement untuk memotret foto yang sekiranya bergerak atau tidak mudah untuk mencari momen untuk foto biasa, konten tersebut hal yang terahir dalm proses sebelum atau menciptakan foto yang menarik.
12. Kalau anda masih meributkan soal Otomatis atau manual melulu, anda masih di tingkat terendah dalam fotografi karena dalam fotografi tidak meributkan dengan hal itu melainkan hai tu sudah tidak lagi di ungkit atau sudah diluar kepala, saat kalian sudah memehami apa itu fotorafi anda harus memikirkan apa yang seharusnya bertndak selanjutnya. Sekitar mengenai konsep, angel, komposisi dan hal yang tingi harus di perluas lagi, maksut kalimat tersebut mempelajari ilmu yang melebihi itu. Jadi hal yang seharusnya kalian lakuakan setelah di tingkat sedang dalam fotografi mencapai tingkat yang tertinggi dalam fotografi jangan sebalikmya.
13. Dari lima tingkatan fotografi, yang bisa Cuma soal teknik. Tak tercela pakai OTOMATIS karena itu hanya bagian kecil dari proses total. Itu halnya seperti pemakaiannya seberapa jika menggunakan otomatis jadi dari pada proses tersebut sia-sia mending kita buat keseluruhannya menggunakan manual karena secara tidak langsung kita dapat mepelajari teknik-teknik memotret yang sesungguhnya, disamping itu kita dapat membiasakan memproses dengan cepat bila ada angel yang menarik dan membutuhkan gerak cepat untuk mengambil gambarnya.
14. Tak akan pernah ada kamera dengan komposisi Otomatis, Angel Otomatis, Moment Otomatis, andalah yang harus berusaha. Maka dari itu kalian jangan pernah menggantungkan option Otomatis dikarenakan itu bisa membuat jadi tidak paham dengan apa yang kalian pelajari selama memakai kamera, usahakan memakai option Manual itu juga bisa membuat kita mengkombinasikan antara rana, diafrahma, dan ISO. Jika kalian sering menggunakan Otomatis maka kalian tidak akan pernah tau teknik memotret yang benar itu bagaimana, masak ada juga angel otomatis pasti tidak ada, laha itu pandainya kalian mengambil angel yang bagus, apalagi momen yang otomatis tidak pernah ada jika momen tersebut direkayasa karena dalam hasil foto tersebut telah bercerita dengan tidak sebenarya.
15. Pakai manual atau otomatis Cuma beda langkah. Mengukurnya pakai kamera itu juga kan? Manual : ukuran, ubah, bidik, Oto : bidik maksut dalam kalimat yang saya tulis tersebut adalah dua macam penggunaan yang berbeda tetapi dalam 1benda yang sama, hanya berbeda sedikit antara otomaits dengan manual tetapi maknanya lebih dalam manual daripada otomatis didalam proses memotret tersebut kena banget manfaatnya sedangkan otomatis tidak terkena manfaatnya. Maka dari itu kalian jangan pernah menggantungkan option Otomatis dikarenakan itu bisa membuat jadi tidak paham dengan apa yang kalian pelajari selama memakai kamera, usahakan memakai option Manual itu juga bisa membuat kita mengkombinasikan antara rana, diafrahma, dan ISO.
16. Orang cantik dan yang tidak cantik, Cuma beda komposisi mata hdung dan bibr. Beda tipis, tapi bias beda efek! Begitu pula foto. Memotret tersebut bisa terdapat aplikasi mirip dengan untuk mengedit cuma dijadikan satu dengan kamera tersebut, ada permainan warna yang tidak kalah dengan aplikasi, disi kita bisa bermain warna untuk mengambil foto misalnya dengan foto landscape itu bisa di atur warna ketajaman untuk yang pas di ojek maupun keseluruhannya, dengan demikian kita tidak berkerja dua kali untuk menambah warna atau kekontrasan warna dalam foto, tetapi juga tidak secanggih aplikasi dalm computer, ya maklum prosesonya kamera lebih kecil daripada computer jadi tidak bisa terlalu secanggih camera, ya bisa disebut mempunyai fungsi masing-masing.
17. Komposisi sangat mempengaruhi bagus tidaknya foto. Analogi : komposisi mata, hidung, bibir kalau diubah, wajah juga berubah kan. Nah ini menerangkan soal angel yang di tentukan jika wajah seseorang yang cantik dari sannya tetapi bila bentuk hidungnya, bentuk mulunya, matanya diubah maka foto itu akan berubah drastic dengan sebelumnya di ubah. Dan itu terjadi di angel bila saat kita ingin motret model dan model tersebut susah diatur maka bagaimana kita bisa mencari angel-angel yang terbaik dari sisi yang belum dicoba. Bisa juga karena komposisi, jadi komposisi yang ingin kita mempercantik modelnya kita atur bagaimana caranya untuk berposi yang menarik dan bagus untuk dipotret. Biasanya fotografer yang sudah mempunyai ilmu cukup dia akan megatur model tersebut sesua keinginan fotografer tersebut dan maka terjadi foto yang badus dan menarik tidak malah menjadi jelek
Teknik - Teknik Pengambilan Gambar Fotografi
Teknik pengambilan foto merupakan sebuah teknik pemilihan luas area frame yang digunakan pada subjek foto yang sudah ditentukan. Teknik pengambilan gambar ini sebenarnya menjelaskan mengenai aturan dan batasan pemotongan subjek dalam frame yang disesuaikan dengan jenis teknik yang digunakan. Berikut ini ada beberapa teknik atau cara mengambil foto yang bagus dan paling umum digunakan, yaitu:
1. Extreme Close Up
Extreme close up atau biasa disingkat dengan ECU merupakan salah satu teknik pengambilan gambar dari jarak yang dekat. Pengambilan gambar dari jarak dekat ini biasanya sampai memperlihatkan pori-pori pada kulit. Tujuan dari penggunaan teknik ECU ialah untuk membuat objek foto terlihat sangat jelas.
2. Big Close Up
Big close up atau BCU merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk menunjukan ekspresi dari objek tertentu. Teknik pengambilan gambar ini bertujuan untuk membuat objek foto terlihat lebih jelas. Perlu diketahui, teknik BCU ini memiliki sasaran objek dari atas kepala hingga dagu objek yang dibidik dengan kamera.
3. Medium Close Up
Teknik pengambilan foto medium close up bertujuan untuk mempertegas gambaran profil yang menjadi objek bidikan kamera. Pengambilan foto ini umumnya dengan menyoroti objek dari kepala hingga bagian dadanya. Penggunaan teknik close up ini biasanya sering digunakan untuk mengisi foto profil seseorang agar bisa terlihat lebih jelas.
4. Medium Long Shoot
Medium long shoot merupakan salah satu teknik pengambilan gambar yang memiliki beberapa batasan yaitu yang dimulai dari bawah lutut kaki hingga atas kepala, serta dari bagian perut ke atas kepala. Teknik fotografi ini banyak digunakan untuk foto portrait.
5. Medium Shoot
Medium shoot merupakan sebuah teknik pengambilan gambar dengan area yang lebih sempit dibandingkan dengan teknik medium long shoot. Area pengambilan gambar dengan teknik medium shoot ialah dari batas pinggang hingga ke atas kepala. Penggunaan teknik medium shoot berguna untuk memperlihatkan detail dari ekspresi tubuh subjek.
6. Long Shoot
Long shoot merupakan salah satu teknik pengambilan gambar dengan menggunakan area yang pas dan tepat. Sehingga semua objek akan terlihat dan tanpa terpotong di dalam frame. Teknik ini lebih menyoroti dan memprioritaskan subjek utama untuk memperlihatkan subjek dengan ekspresi serta interaksi secara keluruhan tanpa terpotong. Teknik long shoot sangat tepat digunakan untuk pengambilan gambar yang menampilkan semua objeknya.
7. Group Shoot
Group shoot adalah sebuah teknik mengambil foto dengan memperlihatkan sekumpulan orang. Layaknya sebuah adegan kerumunan orang, pasukan serta lainnya. Teknik group shoot ini sering digunakan untuk pengambilan foto keluarga.
Posisi dan Sudut Pandang Kamera
Dua elemen yang sangat besar pengaruhnya pada hasil foto Anda adalah posisi dan sudut. Karena keduanya begitu berdampak, maka dengan memvariasikan keduanya akan memastikan bahwa Anda akan dapat memperoleh efek berbeda dalam foto Anda. Berikut ini, kita akan menelaah 3 hal, masing-masing berkenaan dengan posisi dan sudut. (Dilaporkan oleh Tomoko Suzuki)
Posisi: Kedataran Anda memegang kamera
Sudut: Derajat sudut kamera yang menghadap subjek
Hal yang perlu dicatat
- Anda bisa mengubah komposisi foto berdasarkan posisi dan sudut.
- Tentukan posisi sebelum memilih sudut.
Posisi mengacu ke ketinggian kamera secara relatif dari bumi. Memegang kamera pada posisi normal, pada ambang batas mata Anda dikenal sebagai ‘eye-level position’ (posisi level mata), memegang kamera pada posisi yang lebih tinggi dari level mata dirujuk sebagai ‘high position’ (posisi tinggi), dan memegang kamera pada level rendah, misalnya saat Anda jongkok, dikenal sebagai ‘low position’ (posisi rendah).
Sudut mengacu ke derajat arah kamera ke subjek. Memegang kamera pada level horizontal ke subjek dikenal sebagai ‘eye-level angle’ (sudut level mata), memegang kamera menghadap ke bawah dikenal sebagai ‘high angle’ (sudut tinggi), dan memegang kamera menghadap ke atas dikenal sebagai ‘low angle’ (sudut rendah).
Sewaktu Anda memotret, pertama-tama, amati subjek Anda secara menyeluruh sebelum memutuskan posisi pembidikannya. Berikutnya, pikirkan mengenai sudutnya. Dengan memvariasikan secara signifikan posisi dan sudut pemotretan, Anda akan mendapatkan komposisi yang berbeda-beda dari yang mungkin sudah Anda miliki sebelumnya. Untuk menonjolkan kualitas subjek yang paling memikat, Anda perlu mendekatinya dari sudut pandang yang berbeda-beda dan memvariasikan posisi serta sudut pemotretan.
*) POSISI
High Position (Posisi tinggi)
Pegang kamera pada posisi tinggi dengan mengangkat lengan Anda di atas level mata, atau naik ke posisi yang lebih tinggi dengan bantuan pijakan kaki atau platform. Pada posisi pemotretan ini, Anda dapat menangkap lebih jauh ke latar belakang. Dengan mengombinasikan ini dengan sudut tinggi, akan menciptakan perspektif yang tegas.
Eye-level position (Posisi level mata)
Ini adalah posisi pemotretan standar pada ketinggian di mana Anda melihat ke viewfinder sambil berdiri. Karena posisi ini menghasilkan foto yang hanya menangkap apa yang Anda lihat, maka akan menyampaikan bidikan gambar yang paling realistis. Namun demikian, hal ini akan terasa monoton apabila semua gambar diambil dari posisi ini.
Low position (Posisi rendah)
Inilah posisi di mana Anda memegang kamera pada posisi yang lebih rendah dari level mata Anda. Karena pada posisi ini bisa menangkap pandangan berbeda dari yang biasanya Anda lihat, maka, akan menghasilkan foto yang sangat bagus dan menawan. Dengan mengombinasikan ini dengan sudut rendah akan memperkuat efek ini.
*) SUDUT PANDANG
High angle (Sudut tinggi)
Pada Sudut ini, Anda bisa memiringkan kamera ke bawah, menghadap ke subjek yang juga dirujuk sebagai bird’s eye view (pandangan dari udara). Karena sudut ini menangkap subjek secara keseluruhan, maka akan menghasilkan gambar yang deskriptif, yang secara jelas menangkap keadaan di sekeliling seperti yang Anda lihat. Karena posisi pijakan cenderung membentuk latar belakang pada gambar, Anda dapat menyesuaikan pilihan latar belakangnya.
Eye-level angle (Sudut level mata)
Ini adalah sudut pemotretan standar, di mana Anda memegang kamera sama tinggi dengan level mata Anda tanpa memiringkan kamera. Saat Anda memotret pada level mata yang sama seperti subjek, yaitu level yang sama seperti penglihatan normal pada manusia, hasil foto akan tampak wajar dan akrab, serta memiliki kesan stabil.
Low angle (Sudut rendah)
Inilah sudut di mana Anda mengarahkan kamera ke atas pada subjek. Apabila memotret subjek tinggi atau jangkung dari sudut rendah, ini menciptakan kesan kedalaman dan intimidasi, yang memungkinkan Anda menggambarkan kehadiran dan intensitas subjek. Karena langit biasanya membentuk latar belakang, maka akan mudah menyesuaikan komposisi foto.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar